Gayatri Pamoedji
On Life & Autism

TAG | autisme

Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI) bekerjasama dengan Laboratorium Klinik Prodia dan FeMale Radio, akan menyelenggarakan Pelatihan Penanganan Autisme Terpadu, bagi orang tua, guru dan terapis dari anak autis, yang akan diselenggarakan pada:

Hari       : Jum’at, Sabtu dan Minggu

Tanggal : 30 September, 1 dan 2 Oktober 2011.

Jam       : 08.30-17.00 WIB

Tempat  : Auditorium Laboratorium Klinik Prodia

Jl Kramat Raya no.150 Jakarta Pusat.

Pembicara dan Topik:

Hari Pertama.  Terapi Perilaku, Dra Dini Oktaufik, Case Manager dan praktisi Terapi Perilaku (Jakarta)

1.1. Terapi dan manajemen perilaku anak autis. 

1.2. Kunci sukses terapi perilaku yang berhasil

1.3. Imbalan : apa, bagaimana tehnik memberikannya dan kapan sebaiknya diberikan

1.4. COMPIC (Computer Picture) : apa dan bagaimana menggunakannya

1.5. Ketrampilan dasar sosialisasi : komponen yang dibutuhkan serta latihan utk meningkatkan kemampuan sosial

1.6. Kognisi : Kemampuan, perkembangan serta kegiatan latihan utk peningkatan kognisi

1.7. Komunikasi dan Kemampuan  dasar berbahasa

 

Hari Kedua. Terapi Wicara, Dra Yusran Sipala Spth,  praktisi Terapi Wicara dan Speech Pathologist (Sydney)

2.1. Terapi Wicara : tehnik melatih “alat-alat wicara” yg dpt dilakukan oleh orangtua, guru dan terapis

2.2. Kemampuan berbahasa : Tehnik mengajarkan berbahasa pasif dan ekspresif pada anak autis melalui pendekatan paralel dan “self-talk”.

2.3. Komunikasi : membangun inisiatif anak utk mandiri berinisiatif dlm berkomunikasi

 

Hari Ketiga.  Seputar Sekolah Anak Autis, Angie S. Anggari Spd,Msc, Kepala Sekolah dan pendidik anak autis, Jakarta.

3.1. Individual Education Plan: Apa, mengapa dan bagaimana menyusunnya

3.2. Kurikulum pendidikan: apa yang diperlukan anak autis dan bagaimana menyusun kurikulum yang berhasil membantu anak autis.

3.3. Mempersiapkan proses belajar anak autis, yg perlu diantisipasi  orang tua, guru dan terapis

3.4. Sukses Anak = Sukses Team pengajar  dalam  harmonisasi dan komunikasi  orangtua, guru dan terapis

 

sesi siang hari : Terapi Okupasi : apa dan bagaimana, Tri Budi Santoso, Master of Occupation Therapy (Solo), praktisi terapi okupasi.

3.5. Motorik Kasar: perkembangan motorik kasar, identifikasi masalah dan latihan untuk memperbaikinya

3.6. Motorik halus : apa dan bagaimana mendesain kegiatan untuk meningkatkan kemampuan motorik halus.

Pelatihan terpadu ini akan menitik-beratkankan pada praktek, dimana peserta akan bersimulasi bergantian menjadi anak autis dan terapis. Oleh karena itu peserta dibatasi hanya 30 orang saja.

Kontribusi per orang Rp 3 juta (sebelum 23 September 2011), termasuk : makalah, pengetahuan dan penerapan praktis 3 terapi utama, alat peraga yg digunakan dalam latihan, sertifikat, makan siang dan rehat kopi, serta tanya jawab dengan setiap fasilitator.

Informasi dan reservasi sms ke : Reny 021 92554858 /Arimbi 081380741898

Pembayaran dengan bukti transfer ke : Yayasan Masyarakat Peduli Autis Indonesia,  BCA KCU Sudirman, nomor rekening: 035309997.

*hasil bersih dari pelatihan terpadu penanganan anak autis ini akan digunakan untuk membiayai produksi video Penanganan Autisme ke 2  yang akan dibagikan gratis ke seluruh Indonesia.

, , , , , , Hide

Pembagian tugas sebetulnya tidak hanya terjadi di keluarga yang memiliki anak autis. Ibu dan ayah yang baik, biasanya mengkomunikasikan  dulu pembagian tugas antara pasangan suami istri. Pembagian tugas bisa dijalankan sesuai dengan kelebihan dari masing-masing karakter ibu atau ayah serta waktu yang mereka miliki. Misalnya, kalau sang ayah pandai matematika, maka tugas mendampingi anak membuat pekerjaan rumah matematika, sebaiknya dilakukan sang ayah.Demikian juga kalau ibu lebih mahir dalam berkomunikasi, ibulah yang menjadi manajer dan jubir anak untuk urusan sekolah. Idealnya, dilakukan komunikasi yang jujur dan terbuka.

Untuk memotivasi ayah untuk lebih percaya diri dan mau lebih, mulailah  dengan  melakukan tugas-tugas yang menyenangkan, misalnya bermain dengan sang anak, mengantarkan anak berenang, atau mengantar anak bermain video game, atau bermain air di kamar mandi. Diharapkan dengan hal-hal menyenangkan, dapat mendekatkan hubungan  ayah dan anak.

Saat Ayah bermain dengan anak, ibu dapat menggunakan waktu senggang ini untuk beristirahat. Pembagian kerja di Indonesia juga bisa didelegasikan kepada pembantu. Tugas yang sifatnya rutin seperti mengajarkan anak makan, minum atau ke toilet bisa didelegasikan ke para pengasuh, selama ibu atau ayah mengajarkan para pengasuh langkah demi langkah serta memonitor proses belajar.

Buatlah daftar dari pekerjaan atau tugas yang diperlukan untuk mendidik anak. Misalnya, untuk belajar matematika, olahraga, terapi perilaku, terapi wicara dan lain-lain, masing masing dibuat kolom dan kotak tertentu, tergantung jam-nya. Diskusikankan daftar ini dengan  suami, kira-kira dari daftar  ini mana yang ia bersedia kerjakan.

Ibu tetap menjadi manajer. Ibu sebaiknya mengetahui dengan detail apa yang diajarkan di terapi. Ibu dan ayah sebaiknya mengetahui program-program yang sedang dilaksanakan di kelas terapi. Karena, pada akhirnya,  ayah dan ibulah yang akan memonitor sudah sampai mana program terapi itu terlaksana.

Untuk  pengaturan diet dan pola makan, buatlah daftar menu mingguan dimana pelaksanaan menyiapkan hidangan bisa didelegasikan kepada pembantu, yang penting ibu/ayah memonitor dari segi kebersihan dan asupan gizi. Perencanaan yang baik akan mengurangi ketidakpastian dan stress. Intinya, buatlah rencana jika anda ingin mengurangi stress dan memperbesar kemungkinan untuk berhasil.

Sumber : Buku “200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme”, halaman 133

Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Dapatkan Buku “200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme”
di Toko Buku Gramedia dan www.BukuKita.com (online)
Kirim sms  ke MPATI 081380741898
atau email ke : yayasan_mpati@yahoo.com
Isi 220 Halaman, Soft Cover, Harga Buku Rp. 50.000,-

, , , Hide

Pada prinsipnya, sekolah yang tepat ditentukan oleh kemampuan dan kebutuhan anak.
Menentukan sekolah tidak bisa dilakukan hanya dengan berdasarkan cerita orang lain.

Anda harus datang ke sekolah, bicara dari hati ke hati dengan orang tua anak lain yang sudah masuk di sekolah tersebut, serta  bertemu dan berdiskusi dengan kepala sekolah dan guru kelas. Dari situ anda akan memiliki gambaran yang lebih baik tentang sekolah tersebut.

Berikut adalah beberapa kriteria yang dapat dijadikan acuan apakah sekolah tersebut ideal atau tidak untuk anak autis:

Pertama, sekolah dan para pengajar memiliki semangat dan kepercayaan bahwa tiap anak mampu belajar (presume intellect).
Kedua, sekolah memiliki pengetahuan yang memadai tentang autisme.
Ketiga, para guru di sekolah tersebut memiliki pengetahuan yang memadai tentang pendidikan anak autis dimana para guru mendapatkan pelatihan secara berkala.
Keempat, ruang kelas  sebaiknya tidak berisik, tidak banyak gambar gambar di dinding.
Kelima, sekolah dan guru memiliki semangat untuk menerima saran dari orang tua dan para ahli di luar sekolah.
Keenam, jumlah murid di dalam kelas tidak terlalu banyak.
Ketujuh, sekolah dan guru memprioritaskan kepentingan, kebutuhan dan kemampuan anak diatas target kurikulum.

Sumber : Buku “200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme”, halaman 42

Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Dapatkan Buku “200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme”
di Toko Buku Gramedia dan www.BukuKita.com (online)
Kirim sms  ke MPATI 081380741898
atau email ke : yayasan_mpati@yahoo.com
Isi 220 Halaman, Soft Cover, Harga Buku Rp. 50.000,-

, , , , , , Hide

Tentu saja, oleh karena itu sangat penting pendidikan seks untuk anak autis diajarkansejak dini. Pendidikan seks tidak melulu tentang hubungan seks. Mengapa pendidikan seks sangat penting diperkenalkan pada anak autis? Karena, pertumbuhan fisik dari anak autis itu pada dasarnya sama dengan anak-anak normal. Mereka juga lapar, haus, perlu kasih sayang, mengalami perubahan hormon, perlu olahraga dan lain-lain. Persis seperti anak lain yang sehat secara fisik.

Oleh karena itu, anak-anak autis juga memiliki kebutuhan seksual. Masalah seksual muncul terutama  saat anak ini menjelang remaja, dimana dorongan seksual mereka begitu kuat, namun mereka tidak dapat mengkomunikasikan dan mengontrolnya dengan baik (seperti layaknya remaja normal lain). Namun demikian, pendidikan seks di usia dini, akan sangat membantu para remaja autis ini untuk dapat lebih mengerti, dan mengontrol kebutuhan biologis dengan lebih baik, sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Sumber : Buku “200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme”, halaman 38

Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Dapatkan Buku “200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme”
di Toko Buku Gramedia dan www.BukuKita.com (online)
Kirim sms  ke MPATI 081380741898
atau email ke : yayasan_mpati@yahoo.com

, , Hide

Sebetulnya kembali kepada definisi, apakah yang disebut sebagai ‘sembuh’?
Kalau yang dimaksud ‘sembuh’ adalah, anak ini mampu berpikir serta bertingkah laku seperti anak-anak lain tanpa pertolongan dari para ahli, tanpa metode khusus dan tidak menjalani terapi yang diperlukan, rasanya kemungkinan untuk sembuh sangatlah kecil. Para ahli yang dimaksud disini, tidaklah melulu harus mereka yang bergelar medis. Orang tuapun bisa menjadi pendidik yang andal selama mereka mau belajar, mencoba dan pantang menyerah.

Di sisi lain, di negara maju, tidak sedikit anak-anak dengan kondisi autis yang tumbuh menjadi pribadi yang mandiri dan berhasil. Mengingat bahwa anak-anak ini tidak semuanya memiliki tingkat inteligensia yang rendah. Sebagian dari
mereka ini memiliki IQ di bawah rata-rata, sebagian lagi memiliki IQ normal, bahkan ada yang di atas rata-rata. Di Amerika dan Eropa, ada bahkan yang bisa mencapai gelar Doktor (S3).

Secara umum, seorang anak autis bisa dikatakan ‘sembuh’ jika ia mampu hidup mandiri (sesuai dengan tingkat usia), berperilaku normal, berkomunikasi dan bersosialisasi dengan lancar serta memiliki pengetahuan akademis yang memadai untuk anak seusia mereka.

Untuk bisa dikategorikan berhasil ‘sembuh’, banyak faktor yang menentukan. Diantaranya, derajat keparahan dari kondisi autis, usia anak, tingkat kecerdasan dan kemampuan berbahasa dari sang anak, fasilitas penunjang seperti dokter, terapis dan sekolah khusus, kesiapan orang tua dalam membantu mencari yang terbaik bagi sang anak, serta dukungan dari masyarakat luas.

Sumber : Buku “200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme”, halaman 6

Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Dapatkan Buku “200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme”
di Toko Buku Gramedia dan www.BukuKita.com (online)
Kirim sms  ke MPATI 081380741898
atau email ke : yayasan_mpati@yahoo.com

, , Hide

Apr/10

15

Apakah Autisme itu ?

Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak.
Seringkali gejala tampak sebelum anak mencapai usia 3 tahun.

Gangguan perkembangan ini mempengaruhi :

•  Kemampuan berkomunikasi (berbicara dan berbahasa)
•  Kemampuan berinteraksi sosial (tidak tertarik untuk berinteraksi)
•  Perilaku (hidup di dalam dunianya sendiri).

Umumnya, anak-anak autis sebelum berusia 3 tahun sudah menunjukkan ketidak normalan atau keterlambatan perkembangan dalam berinteraksi sosial, berbicara  dan bermain menggunakan daya imajinasi.

Sumber : Buku “200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme”, halaman 1

Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Dapatkan Buku “200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme”
di Toko Buku Gramedia dan www.BukuKita.com (online)
Kirim sms  ke MPATI 081380741898
atau email ke : yayasan_mpati@yahoo.com

, , , , , Hide

Flyer / Brosur Peluncuran Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Flyer / Brosur Peluncuran Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Download Brosur Peluncuran Buku 200 Pertanyaan & Jawaban Seputar Autisme

Menyambut Hari Autisme Sedunia 2010
Masyarakat Peduli Autis Indonesia (MPATI)
menggelar kegiatan dengan tema :

“TANYA JAWAB SEPUTAR AUTISME

Peluncuran Buku 200 Pertanyaan Seputar Autisme

Peluncuran Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Pembicara Peluncuran Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme

Pembicara Peluncuran Buku 200 Pertanyaan dan Jawaban Seputar Autisme


Sabtu, 3 April 2010, 08.30 – 12.30
Financial Hall Lt. 2, Graha Niaga
Jl Jendral Sudirman Kav 58, Jaksel

Peluncuran buku :
“200 Pertanyaan & Jawaban Seputar Autisme”
Gayatri Pamoedji, SE., MHc, pendiri MPATI, penulis buku Meniti Pelangi,
orangtua remaja autis dan eksekutif produser video autisme pertama di Indonesia.

Seminar :
“Menentukan suplemen tepat untuk anak autis berdasarkan analisa rambut”
Dr. Igor Tabrizian, MD, pakar autisme, nutrisi dan suplemen dari Australia

“Pendidikan seks untuk anak autis”
Dra. Dini Oktaufik, program manager dan praktisi terapi perilaku

MC dan Moderator : Sarah Sechan dan Farhan

Rp. 250.000/ orang
Rp. 400.000/ pasangan suami istri
Mendapatkan 2 Makalah, 2 Majalah, Buku, Snack serta Minuman

Hubungi :

MPATI
Wisma Yaqif
Jl. Warung Buncit Raya 99, Jakarta Selatan.
0813 8074 1898 dan 0812 1864 9610
Transfer ke rekening Yayasan MPATI : BCA 035.30.99997
Fax bukti transfer ke 021 797 5733 (bukti fax dibawa sebagai tanda masuk)
Email : yayasan_mpati@yahoo.com
Website : www.autismindonesia.org
Blog : www.gayatri-autisme.com

Hasil kegiatan ini akan digunakan untuk membiayai produksi video-video panduan
penanganan autisme
yang akan dibagikan gratis ke seluruh Indonesia .

Download BrosurPeluncuran Buku 200 Pertanyaan & Jawaban Seputar Autisme

, , , , , , Hide

--> To top